1. Aqidah Akhlaq
2. Qur'an Hadits
3. Fiqih
4. Sejarah Kebudayaan Islam
5. Aswaja
6. Bahasa Inggris
7. Bahasa Arab
8. Matematika
9. Ilmu Pengetahuan Alam
10. Ilmu Pengetahuan Sosial
11. Pendidikan Kewarganegaraan
12. Seni Budaya
13. Bahasa Jawa
14. Teknologi, Informasi dan Komunikasi
15. Baca Tulis Al Qur'an
16. Pendidikan Jasmani, Olahraga dan Kesehatan
17. Kitab Kuning
Kamis, 25 Juni 2015
TEACHERS
1. Wafiqul Umam, S. S
2. Akhmad Qobul, M. Pd. B.I
3. Achmad Bachjatul Ulum, S. Pd
4. Rizky Setiawan, S. Pd
5. Mimi Widayanti, S. Pd
6. Wiwit Endah Rahmawati, S. Pd I
7. Eko Priyono, S. Pd. I
8. Febri Rahmanto, S. Pd
9. Ahmad Susianto
Jumat, 12 Juni 2015
PENERIMAAN PESERTA DIDIK BARU
MENYONGSONG TAHUN AJARAN BARU 2015/2016 MTs PLUS AL MADINAH KROYA MENERIMA PESERTA DIDIK BARU SAMPAI TGL 11-JULI-2015
Minggu, 19 Oktober 2014
Visi, Misi, Tujuan dan Motto MTs Plus Al -Madinah
berakhlak
mulia.
Misi
: 1. Menyelenggarakan pendidikan yang berbasis keteladanan, kedisiplinan,
kreatif dan
inovatif.
2. Menyelenggarakan
pendidikan yang bertujuan menciptakan insan yang cerdas, jujur, dan berakhlak mulia.
3. Mengembangkan
pendidikan dan pembelajaran plus yang berbasis teknologi komputer dan bahasa Inggris.
4.
Menanamkan nilai-nilai kebangsaan untuk membentuk generasi bangsa yang cinta
tanah
air (NKRI).
Tujuan MTs Plus AL- MADINAH
- Menciptakan peserta didik yang berakhlak mulia.
- Membimbing peserta didik untuk menggali potensi diri.
- Membimbing peserta didik untuk menguasai bahasa asing (Inggris dan Arab) sebagai bekal berinteraksi diberbagai negara.
- Membimbing peserta didik untuk mampu mencapai standar kelulusan 100% pada setiap tahunnya.
Motto MTs Plus AL-
MADINAH KROYA
Motto: EKSISS
: Edukatif, Kreatif, Selektif, Inovatif, Santun dan Sosial.
Latar Belakang Pendirian MTs Plus Al Madinah
Suatu bangsa yang sejahtera dan kuat tentu memiliki generasi muda yang
baik. Sebab kondisi generasi muda sekarang, yaitu generasi muda yang sehat dan
kuat jasmani rohaninya adalah sebagai cerminan bangsa di masa yang akan datang.
Membangun generasi muda yang sehat yang kuat jasmani dan rohaninya menjadi
tugas yang sangat penting. Pendidikan jasmani dan rohani sejak dini merupakan
kegiatan yang tidak bisa dilepaskan dari upaya membangun generasi muda yang
sehat dan kuat. Adapun pendidikan rohani yang dimaksud adalah pendidikan
keagamaan yang dimulai dari anak yang masih dalam kandungan hingga
dewasa.
Pendidikan keagamaan bagi anak usia dini memberikan pengaruh pada
pembentukan pribadi, mental dan akhlaknya. Oleh karena itu pendidikan keagamaan
melalui TKA (Taman Kanak-Kanak), TPA (Taman
Pendidikan Alquran) maupun MI (Madrasah Ibtidaiyyah) dan
sederajat perlu terus digalakkan,
dioptimalkan dan ditindklanjuti pada jenjang-jenjang berikutnya dan dilaksanakan secara bersama-sama oleh masyarakat dan pemerintah.
Saat ini, sebagian besar waktu anak-anak kita terbuang sia-sia untuk
menonton acara televisi yang menyuguhkan tayangan-tayangan yang tidak
sepantasnya untuk ditonton oleh anak di bawah usia 15 tahun atau usia sekolah dasar dan menengah pertama. Pada usia tersebut anak-anak masih dalam tahap pembentukan mental dan akhlakul karimah yang tentunya hanya dapat diperoleh melalui pembinaan
khusus dalam bidang keagamaan.
Berdasarkan hal tersebut,
tergeraklah hati kami untuk membentuk sebuah lembaga Pendidikan Formal yang
berdampingan dengan Pendidikan Non Formal yaitu Majlis Ta’lim lil Aulad, agar semua santri-santri yang
kebanyakan anak-anak daerah sekitar di samping
belajar Pengetahuan pada lembaga non formal juga bisa belajar Pengetahuan umum pada lembaga formal sebagai kelanjutan pembelajaran secara tuntas dan
terarah sehingga menjadi lebih
baik.
Untuk
menggapai masalah tersebut, Yayasan Mustofa Al-Utsmani merasa tertantang untuk
membuka pendidikan formal yaitu MTs Plus AL-MADINAH KROYA sebagai jawaban atas
keperihatinan kebanyakan orang tua saat ini sekaligus mempersiapkan generasi
masa depan yang kaya akan hasanah keilmuan umum juga mempunyai wawasan ilmu
agama, sehingga menjadi generasi bangsa yang cerdas dan berakhlakul karimah.
Selasa, 30 April 2013
Kisah 3 Orang yang mimpi Bertemu Rasulullah SAW
Sosok Rasulullah Saw adalah sosok yang dirindukan siapapun yang mengaku sebagai muslim di dunia ini. Dan mimpi bertemu Rasulullah Saw tentu tidak diberikan kepada semua orang, hanya orang-orang tertentu saja yang diberi anugerah ini. Dan saya beruntung bisa bertemu langsung dengan orang yang pernah mimpi bertemu Rasulullah Saw.
Sungguh tak pernah ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk saat saya mendengar cerita tentang 3 orang yang diberi anugerah untuk mimpi bertemu Rasulullah Saw. Dua orang diantaranya, saya mendengar langsung dari sumbernya, sementara satu orang lainnya adalah putri tertua Ust Yusuf Mansur, yang saat itu saya tonton dari tayangan “Chatting dengan YM”.
Orang pertama yang diberi anugerah untuk mimpi bertemu dengan Rasulullah adalah seorang laki-laki. Saat dia mengalami mimpi itu, dia adalah seorang anak kecil berusia sekitar 11 atau 12 tahun, yang saat itu duduk di kelas 5 SD. Dia adalah seorang anak yang biasa-biasa saja, sepertinya tak ada yang istimewa dengan anak ini. Dia seperti anak lainnya yang senang bermain, beraktivitas seperti biasa layaknya anak lain, hanya saja saat teman-temannya berkelahi, dia seperti tidak berminat untuk mengikuti teman-temannya. Mungkin itulah bentuk penjagaan Allah terhadapnya. Anak ini juga mengalami ketidak adilan dalam keluarganya, ibunya yang lebih menyayangi anak perempuannya dibanding dia yang merupakan anak laki-laki, membuatnya tidak betah di rumah. Bahkan saat mengalami mimpi ini pun, dia sedang menginap di rumah saudaranya, bukan tidur di rumahnya sendiri. Dan mimpi itu merupakan hiburan tersendiri baginya, seolah-olah sebagai obat dari ketidak adilan yang didapatnya dalam keluarganya.
Saat itu, saat mimpi itu datang, tak pernah diduganya sama sekali, tiba-tiba dalam mimpinya, sosok teladan itu muncul dari atap rumah, bergamis hijau, memiliki tubuh yang gagah dan tinggi, dan memakai sorban. Saat itu, sosok mulia itu hanya mengatakan, “Suatu saat kamu akan mengunjungi makam aku di Madinah, tapi jangan ceritakan mimpi ini kecuali setelah kamu membuktikan ucapanku (setelah mengunjungi Madinah)”. (berkali kali saya diceritakan mimpi ini, tetap saja tubuh saya merinding).
Berpuluh-puluh tahun anak ini menyimpan rahasia mimpinya ini. Ia pun menjalani kehidupan seperti biasa, bersekolah, bekerja, menikah dan memiliki anak. Hingga di usianya yang menginjak 50 tahun, mimpi itu pun terbukti. Ia pergi haji bersama isterinya dan benar-benar bisa mengunjungi makam Rasulullah (Raudhah) di Masjid Nabawi di Madinah. Jika usia anak ini saat bermimpi bertemu Rasulullah adalah 11 tahun, berarti 39 tahun kemudian Allah membuktikan ucapan Rasululullah di mimpi itu. Saat saya diceritakan mimpi itu, tentu tidak langsung setelah dia pulang haji, tapi bertahun-tahun kemudian. Berarti dia menyimpan rapat-rapat rahasia ini lebih dari 40 tahun. Dia baru berani menceritakannya setelah mimpi itu terbukti menjadi kenyataan. Itulah kisah pertama.
Kisah kedua adalah dari seorang wanita yang juga akan saya sembunyikan identitasnya, karena saat wanita ini menceritakan mimpi tersebut, dia pun tidak ingin menyebutkan identitas dirinya yang sebenarnya. Wanita ini mengalami mimpi tersebut saat masa remajanya di sebuah SMA. Saat itu dia adalah seorang pengurus masjid atau Rohis. Saat teman-temannya memilih dan dipilih untuk mendapatkan posisi penting di kepengurusan seperti sekretaris, bendahara, kaderisasi dan lain-lain yang seringkali tampil di depan, dia memilih untuk menjadi pengurus di belakang layar yaitu bagian yang membersihkan masjid (entah ada di divisi apa). Bagian ini bukanlah posisi favorit yang diincar banyak remaja rohis saat itu, tapi dia memilih untuk menikmati posisi tersebut. Hingga di suatu malam, dia pun terkaget-kaget nyaris tak percaya saat dia mimpi bertemu Rasulullah Saw. Ada perasaan terharu, senang, dan merasa tak layak mendapatkan mimpi tersebut, hingga yang bisa dilakukannya hanyalah bersyukur dan menangis. Begitulah kisah orang kedua yang mengalami anugerah mimpi tersebut.
Kisah ketiga adalah yang dialami oleh Wirda, putri sulung Ust Yusuf Mansur. Mungkin sudah banyak yang menyaksikan tayangan itu saat Wirda menceritakan proses mendapatkan mimpi indah tersebut. Wirda kecil saat itu adalah seorang anak yang sedang berusaha untuk menghafal al-Qur’an, hingga menjelang remaja, masa jenuh pun datang. Saat itu, ia merasa lelah dan tak sanggup untuk menuntaskan hafalannya sampai 30 juz. Dia mengutarakan ketidak sanggupannya kepada ayahnya, Ust Yusuf Mansur dan memutuskan untuk berhenti menghafal al-Qur’an.
Ternyata, saat itulah mimpi itu datang. Saat merasa lelah dan ingin menyerah dalam menuntaskan hafalan al-Qur’annya, Rasulullah datang untuk menguatkan anak ini agar tidak menyerah dan terus berusaha untuk menuntaskan hafalan al-Qur’annya. Wirda dan Ust Yusuf Mansur, sama-sama menangis saat mimpi itu diceritakan kembali. Segala rasa bercampur aduk. Begitulah kisah ketiga.
Dari ketiga orang yang mendapat anugerah mimpi indah ini, kita mendapat kesimpulan bahwa siapapun punya peluang dan kesempatan untuk mimpi bertemu sosok mulia Rasulullah Saw. Tak ada amalan khusus yang menjadi persamaan ketiga orang ini. Tapi sepertinya ketiga orang ini melakukan hal-hal sederhana dan jiwanya “terpelihara” dari hal-hal yang tidak baik.
Semoga saat saya menceritakan kisah ketiga orang ini, saya turut kecipratan berkah nya dan turut bisa merasakan anugerah mimpi bertemu Rasulullah Saw. Semoga kisah-kisah tadi mengingatkan kita semua agar sedikit meluangkan waktu untuk berdoa semoga kita bisa bertemu Rasulullah Saw, baik dalam mimpi atau dalam surga suatu hari nanti.
Wassalam
Rabu, 5 Desember 2012
Sumber: http://novitaungu.blogspot.com/2012/12/kisah-3-orang-yang-mimpi-bertemu.html
Sungguh tak pernah ada yang kebetulan di dunia ini, termasuk saat saya mendengar cerita tentang 3 orang yang diberi anugerah untuk mimpi bertemu Rasulullah Saw. Dua orang diantaranya, saya mendengar langsung dari sumbernya, sementara satu orang lainnya adalah putri tertua Ust Yusuf Mansur, yang saat itu saya tonton dari tayangan “Chatting dengan YM”.
Orang pertama yang diberi anugerah untuk mimpi bertemu dengan Rasulullah adalah seorang laki-laki. Saat dia mengalami mimpi itu, dia adalah seorang anak kecil berusia sekitar 11 atau 12 tahun, yang saat itu duduk di kelas 5 SD. Dia adalah seorang anak yang biasa-biasa saja, sepertinya tak ada yang istimewa dengan anak ini. Dia seperti anak lainnya yang senang bermain, beraktivitas seperti biasa layaknya anak lain, hanya saja saat teman-temannya berkelahi, dia seperti tidak berminat untuk mengikuti teman-temannya. Mungkin itulah bentuk penjagaan Allah terhadapnya. Anak ini juga mengalami ketidak adilan dalam keluarganya, ibunya yang lebih menyayangi anak perempuannya dibanding dia yang merupakan anak laki-laki, membuatnya tidak betah di rumah. Bahkan saat mengalami mimpi ini pun, dia sedang menginap di rumah saudaranya, bukan tidur di rumahnya sendiri. Dan mimpi itu merupakan hiburan tersendiri baginya, seolah-olah sebagai obat dari ketidak adilan yang didapatnya dalam keluarganya.
Saat itu, saat mimpi itu datang, tak pernah diduganya sama sekali, tiba-tiba dalam mimpinya, sosok teladan itu muncul dari atap rumah, bergamis hijau, memiliki tubuh yang gagah dan tinggi, dan memakai sorban. Saat itu, sosok mulia itu hanya mengatakan, “Suatu saat kamu akan mengunjungi makam aku di Madinah, tapi jangan ceritakan mimpi ini kecuali setelah kamu membuktikan ucapanku (setelah mengunjungi Madinah)”. (berkali kali saya diceritakan mimpi ini, tetap saja tubuh saya merinding).
Berpuluh-puluh tahun anak ini menyimpan rahasia mimpinya ini. Ia pun menjalani kehidupan seperti biasa, bersekolah, bekerja, menikah dan memiliki anak. Hingga di usianya yang menginjak 50 tahun, mimpi itu pun terbukti. Ia pergi haji bersama isterinya dan benar-benar bisa mengunjungi makam Rasulullah (Raudhah) di Masjid Nabawi di Madinah. Jika usia anak ini saat bermimpi bertemu Rasulullah adalah 11 tahun, berarti 39 tahun kemudian Allah membuktikan ucapan Rasululullah di mimpi itu. Saat saya diceritakan mimpi itu, tentu tidak langsung setelah dia pulang haji, tapi bertahun-tahun kemudian. Berarti dia menyimpan rapat-rapat rahasia ini lebih dari 40 tahun. Dia baru berani menceritakannya setelah mimpi itu terbukti menjadi kenyataan. Itulah kisah pertama.
Kisah kedua adalah dari seorang wanita yang juga akan saya sembunyikan identitasnya, karena saat wanita ini menceritakan mimpi tersebut, dia pun tidak ingin menyebutkan identitas dirinya yang sebenarnya. Wanita ini mengalami mimpi tersebut saat masa remajanya di sebuah SMA. Saat itu dia adalah seorang pengurus masjid atau Rohis. Saat teman-temannya memilih dan dipilih untuk mendapatkan posisi penting di kepengurusan seperti sekretaris, bendahara, kaderisasi dan lain-lain yang seringkali tampil di depan, dia memilih untuk menjadi pengurus di belakang layar yaitu bagian yang membersihkan masjid (entah ada di divisi apa). Bagian ini bukanlah posisi favorit yang diincar banyak remaja rohis saat itu, tapi dia memilih untuk menikmati posisi tersebut. Hingga di suatu malam, dia pun terkaget-kaget nyaris tak percaya saat dia mimpi bertemu Rasulullah Saw. Ada perasaan terharu, senang, dan merasa tak layak mendapatkan mimpi tersebut, hingga yang bisa dilakukannya hanyalah bersyukur dan menangis. Begitulah kisah orang kedua yang mengalami anugerah mimpi tersebut.
Kisah ketiga adalah yang dialami oleh Wirda, putri sulung Ust Yusuf Mansur. Mungkin sudah banyak yang menyaksikan tayangan itu saat Wirda menceritakan proses mendapatkan mimpi indah tersebut. Wirda kecil saat itu adalah seorang anak yang sedang berusaha untuk menghafal al-Qur’an, hingga menjelang remaja, masa jenuh pun datang. Saat itu, ia merasa lelah dan tak sanggup untuk menuntaskan hafalannya sampai 30 juz. Dia mengutarakan ketidak sanggupannya kepada ayahnya, Ust Yusuf Mansur dan memutuskan untuk berhenti menghafal al-Qur’an.
Ternyata, saat itulah mimpi itu datang. Saat merasa lelah dan ingin menyerah dalam menuntaskan hafalan al-Qur’annya, Rasulullah datang untuk menguatkan anak ini agar tidak menyerah dan terus berusaha untuk menuntaskan hafalan al-Qur’annya. Wirda dan Ust Yusuf Mansur, sama-sama menangis saat mimpi itu diceritakan kembali. Segala rasa bercampur aduk. Begitulah kisah ketiga.
Dari ketiga orang yang mendapat anugerah mimpi indah ini, kita mendapat kesimpulan bahwa siapapun punya peluang dan kesempatan untuk mimpi bertemu sosok mulia Rasulullah Saw. Tak ada amalan khusus yang menjadi persamaan ketiga orang ini. Tapi sepertinya ketiga orang ini melakukan hal-hal sederhana dan jiwanya “terpelihara” dari hal-hal yang tidak baik.
Semoga saat saya menceritakan kisah ketiga orang ini, saya turut kecipratan berkah nya dan turut bisa merasakan anugerah mimpi bertemu Rasulullah Saw. Semoga kisah-kisah tadi mengingatkan kita semua agar sedikit meluangkan waktu untuk berdoa semoga kita bisa bertemu Rasulullah Saw, baik dalam mimpi atau dalam surga suatu hari nanti.
Wassalam
Rabu, 5 Desember 2012
Sumber: http://novitaungu.blogspot.com/2012/12/kisah-3-orang-yang-mimpi-bertemu.html
Langganan:
Postingan (Atom)

















